. Keriting News - Voice Of Tgidoo: west Papua
TIGIDOO VOICE website | Members area : Register | Sign in


Tampilkan postingan dengan label west Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label west Papua. Tampilkan semua postingan

Hak Hidup Orang Papua Di Hilangkan Oleh Penjajah

Minggu, 06 Juli 2014

Steven Peyon
Setelah Indonesia, Amerika, Belanda menggadaikan alam Papua, Indonesia bersama kekuatan militer juga masih saja menghilangkan panggilan hidup yang telah dianugrahkan kepada anak-anak Papua. Kekejaman  dan kekerasan militer telah menghilangkan panggilan hidup anak bangsa Papua. Fakta yang selama ini terjadi di Papua, banyak orang tua yang dikejar-kejarolehmiliter, banyak orang tua yang di penjarahkan oleh militer, dan banyak orang Papua yang dibunuh oleh militer Indonesia.

 Hal ini telah berdampak terhadap anak-anak yang sedang berada di bangku pendidikan.Banyak anak-anak tidak lanjut sekolah, banyak mama-mama yang tidak berjualan, dan banyak orang Papua lainnya takut bereskpresikan hidupnya.

 Mari kita bertanya kepada anak-anak yang tidaks ekolah; kenapa kamu tidak lanjut sekolah? Karena tidak ada biaya. Kenapa tidak ada uang untuk membiayai sekolah? Karena orang tuanya sudah dipenjarahkan atau sudah dibunuh oleh militer Indonesia. Manamungkin seorang anak kecil mendapatkan uang tanpa berperan penting oleh kedua orang tua. Itulah jawaban dari anak-anak Papua yang tidak sekolah

 Marilah kita Tanya kepada mama Papua yang tidak berjualan; kenapa tidakberjualan lagi? Karena di dekat Pasar ada banyak militer yang sedang jalan kesana-kesini dan mereka mencurigai kami isteri-isteri dari OPM. Militer selalu bertanya-tanya kepada kami, apakah kamu isteri dari OPM, apakah kami sudara dari OPM dan lain sebagainya. Hal-hal inilah yang membuat kami tidak mau berjualan lagi. Demikian jawaban dari mama-mama Papua yang tidak berjualan.

 Mari kita Tanya kepada kaum muda Papua yang tidak bereskpresikan hidupnya. Kenapa kamu tidak bekerja padahal kamu sudah selesai pendidikan? Saya tidak mau bekerja di lembaga atau di pemerintahan mana pun karena apabila saya bekerja dan saya melakukan hal-hal yang menguntungkan bagi saya, keluarga saya, dan masyarakat Papua pasti militer Indonesia mencurigai saya OPM dan militer akan kejar-kejar saya. Demikian jawaban dari kaum muda Papua yang masih ngangur.

Apabila anak-anak Papua tidak sekolah karena kedua orang tua dipenjarahkan dan dibunuh oleh militer maka anak-anak tersebut telah kehilangan panggilan hidup yang telah ditentukan oleh ALLAH. Siapa yang menghilangkan panggilan hidup anak bangsa Papua? Jawabannya spontan saja “Negara Indonesia bersama kekuatan militer Indonesia”. lalu, siapa yang berdosa apabila tidak menjalankan hidup sesuai panggilan ALLAH? Bukan orang tua, bukan anak-anak Papua tetapi Indonesia dan militer. Maksih sudah panen dosa.

Apabila mama Papua tidak berjualan karena kekerasan militer berarti mama-mama Papua telah kehilangan panggilan hidup yang sesungguhnya dari ALLAH. Siapa yang menghilangkan panggilan hidup mama-mama Papua yang sesungguhnya?Negara Indonesia dan militer Indonesia. Lalu siapa yang berdosa, mama-mama Papua atau Negara/militer? Jawabannya Indonesia selamat panen dosa

 Itulah situasi yang terjadi di Papua. Amerika, Belanda, dan Indonesia menggadaikan tanah Papua dan kekayaan alam Papua sementarai tu, Indonesia bersama kekuatan militer juga sedang menghilangkan panggilan hidup yang sesungguh bagi manusia Papua

“Negara Indonesia selamat memetik dosa-dosa politik di bumi Papua dan awas jangan sampai meleda kpada saatnya”

By Steven Peyon

SERUAN; UNTUK ORANG PAPUA YANG SIBUK KAMPAYE KLONIAL INDONESIA

Sabtu, 05 Juli 2014


 Perhatian untuk orang-orang Papua yang terlena dan sibuk kampanye Capres Jokowi dan Prabowo!

Engkau mau sibuk sampai banting tulang juga, Indonesia tidak butuh 2 juta suara orang Papua dibanding 187 juta suara di daerah lain Indonesia. Indonesia hanya butuh kepatuhan anda dalam Pilpres agar mereka dapat menunjukan kepada dunia bahwa orang Papua setia pada Penjajah yang sedang menjajah West Papua.

Uang dan jabatan dalam kolonial Indonesia tidak akan menyelamatkan anda, keluarga, suku dan bangsamu dari laju pemusnahan yang sedang terjadi. Sangat memalukan dan memilukan bila anda sibuk suksesi Pilpres, sementara hari-hari di depan mata: orang Papua terus dibunuh seperti binatang, tanah dan sumber daya alam anda terus dikuasai dan dirampok.

Saudaraku! Pilihan ada pada anda; Apakah tunduk dan mati dalam kolonialisme Indonesia? atau berdiri dan melangkah maju untuk menentukan nasib anda sendiri! Keselamatan bangsa papua ditentukan oleh sikap dan tindakan anda hari ini!

Salam erat-erat!

Victor Yeimo
Penjara Abepura

Ladies Gombo woman heroine fighter for the West Papuan people has died

Kamis, 03 Juli 2014

Today we mourn the passing of a true West Papuan heroine and freedom fighter

Ledis Gombo from the AMP (Papuan Student’s Alliance) tragically died today in her home region of Wamena, West Papua.
Ledis was a true heroine of the West Papuan nation, who regularly risked her life to bring freedom for her people.

She joined the AMP at young age and was one of the hundreds of AMP students studying in Java, Indonesia because Indonesia systematically deprives West Papua of adequate education facilities.
Regularly giving the most inspirational speeches at protests, Ledis was known throughout West Papua as an incredibly brave and committed peaceful activist, putting the lives of her people before herself.

http://ampbandungjabar.blogspot.co.uk/2014/07/selamat-jalan-pejuang-west-papua.html

Almost exactly one year ago today, on 1st July 2013 Ledis was leading a peaceful protest by the AMP in Bandung Indonesia and spoke of how in West Papua, peaceful protesters are killed just for expressing their rights to freedom.

The Free West Papua Campaign is very sad to learn of the passing of our dear sister and as a people, all Papuans mourn together when another freedom fighter dies.
But in her vision, we will struggle on until we are free.

Today we join in the word’s of one of her family members and activists,: “Today, you go forever, but your fighting spirit and ideology have always been with us to continue to fight to reclaim the nation of West Papua”

Rest in peace and farewell sister Ledis Gombo
You are always with us.

Awas...! Manusia Bertopeng dikalangan Mahasiswa Papua



Surabaya.Segelintir Oknum Mahasiswa Papua Surabaya Yang tergabung dalam Masyarakat Mahasiswa Papua,Papua Barat,Maluku dan NTT Mendeklarasikan Dukungannya Kepada Capres Tertentu.Rabu 02/072014,Sekitar Pukul 18.00 sampai Selesai Bertempat di Hotel Empire Place Surabaya,Jl.Brauran Surabaya.Menurut pantauan Media ini Persiapan Maupun sampai Pergelaran Deklarasi Dukungan Kepada Capras Tersebut Dilakukan Secara Terselubung yang dilakukan oleh Oknum-Oknum Bertopeng Baik itu dari Masyarakat Papua surabaya Maupun IPMAPA Surabaya Karena Tahapan persiapan Sampai Hari-H Pendeklarasian tersebut Tanpa Sepengetahuan 60% dari Ikatan-Ikatan / Organisasi-organisasi Papua yang ada di Surabaya.Ketika ditemui Ketua Ikatan Nabire,Paniai,Dogiyai dan Deiyai (IPMANAPADODE) Kota Surabaya-Sidoarjo, Framax.” Kegiatan Pendeklarasian ini Dilakukan Oleh Oknum-oknum Tertentu Secara sepihak karena saya bersama Anggota Organisasi saya Baru Mengetahui Kegiatan itu Ketika Pendeklarasian sedang Berlansung.Itupun karena teman saya menelphon saya Menanyakan apakah Anggotamu ada ikut atau tidak..Seharusnya IPMAPA Surabaya Harus menjalankannya sesuai Prosedur yang ada,dengan tahan Pembahasan terlebidahulu Melalui RUA IPMAPA dan Berdasarkan Rekomendasi Resmi dari Seluruh Organisasi-Organisasi Kemahasiswaan Papua Yang Ada di surabya,Ungkapnya”.
waktu yang bersamaan juga Diungkapkan oleh salasatu Mahasiwa Asal Meepago Piche Takimai Dengan rasa Kesal, Bahwa”Golput,boikot ataupun Mendukung,memillih Capres adalah Hak Hati Nurani Masing-masing Namun Disini yang saya kesalkan adalah Mengatasnamakan Mahasiswa Papua Surabaya,Loh...inikan tong Sebagian Orang tratau Barang itu berlansung dan tanpa sepengetahuan kami lagipula trada surat rekomendasi dari semua Ketua-Ketua ikatan wilayah/Kabupaten,dan saya pikir Kami Dipermainkan Oknum-oknum Bertopeng Dari IPMAPA dan Masyarakat Papua di Surabaya.namun Permasalahan ini kami akan Telusuri dan diskusikan bersama,Ungkapanya.” (pit/VOT)

DEWAN ADAT PAPUA PERINGATI KEMATIAN THEYS H.ELUAY

Sabtu, 09 November 2013

Theys Eluay saat meninggal dunia | Ist

@IRNewscom | Sentani: DEWAN Adat Papua (DAP) akan memperingati Hari Tragedi Kemanusiaan Papua Barat (Humanity Tragic Day of West Papua) yang jatuh pada Minggu (10/11). Peringatan itu digelar dengan ibadah syukur.

"Hari Tragedi Kemanusiaan (10/11) akan diperingati dalam bentuk ibadah syukur pada hari Senin (11/11). Tempat dan waktu ibadah disesuaikan dengan kondisi daerah masing-masing," kata Ketua Umum DAP, Forkorus Yaboisembut, di Sentani, Sabtu (09/11).

Forkorus mengatakan, 10 November ditetapkan sebagai Hari Tragedi Kemanusiaan Papua Barat untuk memperingati meninggalnya secara tidak wajar Ondofolo Dortheis Hiyo Eluay (Theys) yang menjabat Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Provinsi Papua. Dia juga sebagai Ketua Presidium Dewan Papua (PDP). "Saya mengajak semua pihak untuk melakukan introspeksi, secara pribadi maupun secara kolektif di setiap suku-suku dan sebagai warga Papua untuk mengubah gaya hidup (life style) dengan dengan tidak melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap keluarga, orang tua, saudara, teman maupun pihak lain," ujarnya seperti dilansir Antara.

Menurut dia, pihaknya telah memilih dan berjuang dengan cara-cara damai, serta menghargai nilai-nilai hak asasi manusia, asas-asas demokrasi, dan prinsip-prinsip hukum internasional. "Kami patut mendoakan sesama umat manusia di belahan lain di bumi ini yang juga mengalami peristiwa kejahatan kemanusiaan. Agar para pemimpin mereka, baik pemerintahan yang sedang berkuasa, maupun para pihak oposisi dapat mengubah cara pandang atau gaya hidup (life style) mereka yang egois atau tamak (greedy)," kata Forkorus.

Dengan demikian, lanjut dia, rakyat bisa hidup lebih aman, damai dan sejahtera, serta pada gilirannya diharapkan dapat berimbas kepada perdamaian di seluruh dunia.

Selain itu, kata Forkorus, bila ada yang merencanakan pelaksanaan peringatan Hari Tragedi Kemanusiaan dalam bentuk lain, seperti melakukan demo damai, diharapkan agar benar-benar dalam suasana damai, tertib, aman, dan terkendali. "Kepada pihak aparat polisi dan militer Indonesia supaya dapat memberikan kesempatan kepada penyampaian pendapat di depan umum," ujar dia. [ant]

source: www.indonesiarayanews.com

komenta berita terbaru